Sabtu, 17 September 2011

BELAJAR DARI TALI SEPATU

SS. Di tengah permainan tenis meja, saya melihat ikatan tali sepatu olahraga saya melonggar. Supaya jangan terlepas dan terinjak, cepat-cepat saya menyentakkan bagian lengkungnya untuk mengencangkannya. Tidak lama lagi, tali itu mulai longgar lagi. Saya sempat berpikir untuk tidak menghiraukannya supaya permainan saya tidak terganggu. Tetapi akal sehat saya mengatakan bahwa ada "bahaya" yang mengancam kalau tali itu menjadi terlepas dan kaki saya sendiri tersandung karenanya. Bukan saja permainan saya akan terganggu, tapi saya mungkin terluka. Saya minta "time out" untuk membereskannya.

Dalam hubungan suami-istri kadang-kadang kita melihat tanda-tanda hubungan kita menjadi longgar. Sebelum mencelakakan kita, sebaiknya kita memperhatikannya. Prioritaskan untuk ambil waktu khusus untuk membereskannya. Kalau belum terlalu berat, cukup satu sentuhan akan mudah membereskannya. Kalau dibiarkan lebih lama, mungkin perlu dibongkar dulu baru ditalikan lagi. Artinya perlu usaha yang lelih berat dan waktu yang lebih lama untuk membereskannya. Tetapi bila dibiarkan mungkin saja akan melukai kita. Setuju?

Jumat, 16 Juli 2010

KAPAN TERAKHIR BERDOA UNTUK PASANGAN?

SS. Apakah Anda pernah berdoa untuk pasangan Anda? Mungkin sering kita berdoa bagi pasangan Anda supaya dia berubah. Tetapi apakah Anda memikirkan tantangan-tantangan yang akan dihadapinya hari ini dan berdoa untuk hal itu juga? Apakah Anda berdoa untuk berkat dan pertumbuhan rohaninya? Berdoa juga untuk kedekatannya dengan ALLAH. Siapa tahu, justru doa-doa itu akan membuat hubungan Anda lebih dekat.

KEINTIMAN SPIRITUAL

SS. Ketika kita mendengan istilah “keintiman suami istri”, mungkin saja yang pertama muncul di bayangan kita adalah keintiman fisik. Ada keintiman lain yang penting, karena menentukan bentuk keintiman lainya termasuk keintiman fisik, yaitu keintiman spiritual.

Salah satu bentuk keintiman spiritual adalah dalam hal berdoa bersama. Banyak suami isteri kurang berhasil dalam upaya untuk berdoa bersama. Mungkin mereka hanya berdoa sesaat sebelum tidur malam. Yang lainnya mengatakan bahwa saat makan pagi atau makan malam merupakan kesempatan yang paling bagus untuk berdoa bersama, meskipun pasangan yang punya anak seringnya malah menyuruh anak-anak mereka, terutama anak-anak kecil, untuk berdoa.

Untuk pasangan suami isteri yang sama-sama bekerja di luar rumah, seringnya makan siang pada waktu yang berbeda dan bahkan mempunyai jadwal tidur yang berbeda. Maka doa menjadi sesuatu yang bersifat sambil lalu disela-sela kesibukan lain

Kita butuh pedoman untuk membantu kita menjaga kehidupan doa bersama sebagai pasangan suami-isteri.

1. Doa bersama dimulai dari sikap dan perlakuan yang baik kepada pasangan. “Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang” (1 Petrus 3:7). Kita bisa meneruskan nasihat Petrus untuk para wanita,”Para isteri bersikaplah baik terhadap suamimu.” Berdoalah agar Anda berdua bisa belajar saling bersikap baik.

2. Doa tidak harus berbentuk lisan. Ketika kita di kejutkan oleh masalah yang berat, sering kita tidak mampu berkata apa-apa. Seperti yang dikatakan Paulus, “Kita tidak tahu apa yang seharusnya kita doakan” (Rom. 8:26). Paulus selanjutnya mengatakan bahwa ketika kita tidak mampu bicara- apalagi berdoa, “… Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.” Sebagai suami dan isteri, kita bisa saling berpegang tangan dan diam sementara kita bergantung pada Roh Kudus untuk berdoa bagi kita. Doa seperti ini bisa digunakan kapan pun, ketika masing-masing tidak bisa mengeluarkan kata-kata untuk mengungkapkan perasaan-perasaan yang terdalam.

3. Berdoa ketika Anda terpisah lebih daripada ketika Anda bersama-sama. Setiap pernikahan memiliki saat-saat keterpisahan yang tidak terhindarkan karena pekerjaan, pengasuhan anak, perawatan orangtua yang sakit di kota-kota yang jauh, dinas militer, dan lain sebagainya. Lebih serius lagi adalah saat-saat perpisahan di mana seorang suami dan isteri sudah tidak lagi merasa nyaman dengan kehadiran pasangannya, ketika bayang-bayang perceraian menggantung seperti awan di atas hubungan mereka.

Setiap waktu perpisahan merupakan waktu untuk doa dengan bersungguh-sungguh. Rasul Paulus dalam 1 Korintus 7:5, berbicara terus-terang tentang hal ini. Ia mendorong pasangan untuk tidak saling menjauhi supaya Iblis tidak bisa menggoda mereka. Kalau suami dan isteri harus menghentikan hubungan seksual karena alasan apapun juga, ini bisa menjadi awal dari perpecahan yang serius di antara keduanya. Paulus mengatakan hal seperti itu hanya boleh dilakukan sementara waktu dan hanya menggunakan waktu mereka untuk berdoa.

4. Berdoa sambil berpegangan tangan. Teknik ini menggabungkan keintiman spiritual dan kedekatan secara fisik. Kita berlu dilatih untuk melihat keduanya sebagai bagian dari mata uang yang sama, walaupun berbeda muka. Hasilnya akan selalu positif.

Semua itu perlu dibiasakan. Mulailah keintiman Anda dengan berdoa bersama, dan nikmati hasilnya. Selamat mencoba.

Senin, 03 Agustus 2009

DOUBLE HAPPINESS

Mungkin Anda pernah melihat kaligrafi Tionghoa ini. Karakter kaligrafi ini cukup sering muncul dalam kartu ucapan selamat untuk perkawinan atau ditampilkan sebagai latar belakang pelaminan dalam perkawinan Tionghoa.

Dalam bahasa Inggris seringkali diterjemahkan sebagai "double happiness" atau "double joy". Karakter ini terdiri dari dua karakter yang disandingkan. Kalau berdiri sendiri, masing-masing punya makna "happy" atau senang. Tetapi secara tradisional, bila kedua kareakter itu disandingkan menjadi satu, akan memberikan makna "baru" yaitu kesenangan ganda atau kebahagiaan yang berlipat.

Memang penggabungan huruf ini punya sejarahnya sendiri pada masa dinasti Tang di Tiongkok (lihat "dobule happiness" di wikipedia), tetapi saya tidak bermaksud untuk mengajari Anda soal sejarah. Saya hanya ingin menggunakannya sebagai suatu ilustrasi untuk rumah tangga dengan memberinya "makna" yang berbeda.


1. Kebahagiaan itu lebih bermakna bila dinikmati bersama. Bisa saja seorang menikmati kebahagiaannya sendirian. Tetapi, ketika kebahagiaan itu dibagikan kepada orang yang dicintainya, maka dia tidak akan merasa kebahagiaan berkurang. Malah sebaliknya dia akan menemukan kebahagiannya dilipatgandakan. Kita ini diciptakan dengan kapasitas untuk disenangkan, ketika orang lain senang karena keberadaan kita. Kita merapa puas ketika kita menyadari bahwa kita bisa memuaskan orang lain. Ada rasa berharga ketika kita bisa memberikan penghargaan kepada orang lain. Apa lagi kalau orang yang kita bahagiakan itu adalah orang yang paling dekat dengan kita seperti belahan jiwa kita yaitu suami atau istri. Kalau kita membahagiakan dia pastilah yang berbahagia bukan saja dia (seorang diri), tetapi juga kita berdua.

2. Kebahagiaan itu berlipat ketika suami atau istri memiliki sumber kebahagiaannya sendiri. Sumber kebahagiaan yang tak pernah kering adalah Pencipta kita. Kita masing-masing bertanggungjawab untuk menjaga relasi vertikal ini, supaya tidak "putus hubungan" dengan Sumbernya. Tidak "fair" kalau salah satu menuntut pihak lain untuk memenuhi kebahagian kita . Lalu siapa yang memenuhi kebutuhan mereka untuk dibahagiakan. Mereka kan punya hak yang sama. Kalau kita saling menuntut begitu, maka kita tidak akan pernah menikmati kebahagiaan yang abadi. Paling-paling kita hanya menikmati kesenangan sesaat ketika kemauan kita dituruti oleh orang lain.

3. Kebahagiaan itu berganda ketika suami memusatkan upayanya untuk membahagiakan istrinya sebelum kebahagiaan pribadinya. Dan istri, pada waktu yang sama berupaya untuk memrioritaskan kebahagiaan suaminya di atas kebahagiaannya sendiri.

Selamat mencoba.

Kamis, 30 April 2009

Dilahirkan untuk Dilepaskan, Dinikahi untuk Disatukan

SS Hidup ini sudah ada aturannya. Jangan dibalik-balik! Tanpa sadar sering kita melihat hubungan kita dengan anak lebih erat dari hubungan dengan suami, atau istri. Emosi kita seolah-olah berkata, "Anak itu lahir dari kita, sedangkan suami atau istri itu kan asalnya orang lain" Pernyataan ini benar. Tetapi ini baru awalnya.

Dengan hadirnya seorang anak, seolah-olah sudah jadi kewajiban, orang tua memusatkan semua waktu dan perhatiannya kepada anak dan karier (sumber rejeki - untuk anak). Kebutuhan hubungan antara suami dan istri sementara "dikesampingkan". Ketika anak mulai dewasa dan mau melepaskan diri dari kita, kita menjadi sedih bahkan sakit hati. Dan tidak jarang ketika mereka benar-benar menikah dan meninggalkan rumah, rumah tangga kita jadi kosong, seolah-olah kehidupan kita ikut terbawa mereka pergi. Sedangkan hubungan suami istri yang kita biarkan tak terpelihara sudah lama mati tanpa kita sadari karena tertutup kesibukan mengurus anak.

Suami dan istri disatukan dalam pernikahan yang permanen. Dari orang asing tapi sudah mengalami proses "merger" atau "fusion" menjadi satu kesatuan dan kemitraan. Masa berlakunya seumur hidup. Apapun yang kita alami tidak akan kita ijinkan untuk menjadi pemecah kesatuan ini. Dan kalau mungkin segala kesalahan dan konflik cepat kita bereskan supaya tidak merongrong keutuhan relasi istimewa ini. Tidak boleh ada yang mengganggu, bahkan anak sekalipun. Sebaliknya kemitraan yang terus diperdalam ini yang akan menjadi sumber energi kita bersama untuk membesarkan anak-anak bersama.

Anak yang kita lahirkan, suatu waktu harus kita lepaskan. Jadi dari kecil kita melatih mereka untuk mandiri. Makan sendiri, mandi sendiri, belajar sendiri dan pergi tanpa kita temani. Sesuai dengan perkembangan umur mereka, mereka akan mulai menunjukkan "gejala" menjauhi kita atau tidak membutuhkan kita. Ini normal, karena sudah menjadi bagian dari proses menjadi mandiri. Bukankah itu yang kita ingini. Kenapa sakit hati? Bukannya malah harus bergembira karena upaya kita mendewasakan mereka mulai berhasil.

Jangan sampai anak kita lahirkan untuk tidak kita lepaskan. Sedangkan suami atau istri kita biarkan terlepas. Coba renungkan dan teliti hidup Anda.

Jumat, 17 April 2009

Berbuat baik itu tergantung MOTIVASI-nya

MJ Saya masih ingat ketika masih dalam fase pendekatan dengan seorang gadis (yang sekarang jadi istri saya). Apa pun saya rela lakukan untuk mendapatkan hatinya. Tidak ada yang "sukar". Hujan, angin dan banjir saya terobos justru untuk membuktikan cinta saya. Makin sulit tantangannya makin bernafsu saya untuk mengatasinya. Apalagi waktu itu masih perlu membuktikan kalau saya lebih baik dari pria-pria lain yang juga sama-sama sedang cari peluang untuk mencuri hatinya.

Coba lihat petugas "CS" atau customer service, walaupun sakit kepala "nyut-nyut" masih juga senyum pada pelanggan yang di hadapinya. Kalau terima telpon masih juga manis sapaannya. Koq bisa? Bahkan dia melakukan semua itu tanpa harapan untuk dibalas dengan kebaikan juga oleh orang yang dilayaninya. Tentu imbalannya dari atasannya yang memberikan gaji yang pantas. Tapi kalau tiba di rumah, belum tentu sikap ini masih berlaku. Mudah-mudahan itu tidak terjadi karena yang di rumah tidak ada yang bayar.

Saya hanya belajar bahwa untuk berbuat baik itu tidak sulit asal ada MOTIVASInya. Sering kita tidak punya MOTIVASI untuk berbuat baik karena merasa tidak ada imbalannya.

Kalau perbuatan baik kita hanya untuk imbalan, maka perbuatan itu "tidak cukup baik". Dan lagi setiap perbuatan baik kita dicatat oleh Pencipta kita. Dia pasti tidak membiarkan segala yang baik dari kita berlalu begitu saja tanpa perhatian-Nya. Semoga ini jadi MOTIVASI kita untuk berbuat baik.

Kamis, 16 April 2009

Apa susahnya menyenangkan SATU orang seumur hidup?

SS/praN"Susah sekali menyenangkan banyak orang". Ya pasti susah! Setiap orang punya selera, harapan dan tuntutan yang berbeda. Tetapi siapa suruh menyenangkan semua orang?. Kalau kita hanya perlu menyenangkan SATU orang saja, apalagi diberi kesempatan untuk mencoba dan mencoba lagi selama seumur hidup, tentu akan lebih mudah. Kalaupun ada yang belum sesuai dengan keinginannya, masih ada kesempatan untuk menyesuaikan. Lalu dicoba lagi.

Kalau saja suami atau istri punya semangat untuk menyenangkan pasangan hidupnya (SATU orang saja) untuk seumur hidupnya, alangkah bahagianya pasangannya. Susah? "Kalo cuma satu orang apa susahnya?" Tapi yang buat susah kalau kita lalu bertanya, "Terus yang nyenangkan aku siapa?" Ketika kita mulai menuntut untuk disenangkan, maka kemampuan kita untuk menyenangkan orang lain akan berkurang.

Begini saja, yang menyenangkan suami adalah istri, dan yang menyenangkan hidup istri adalah suaminya. Dan ini dicoba dan diupayakan seumur hidup. Ketika kita melakukannya kita melihat kebahagiaan merekah di hidup orang yang paling dekat dengan kita. Kalaupun susah-susah sedikit, terus aja lakukan. Tidak saja membuat hidupnya lebih bermakna tetapi juga hidup kita - karena kita mau dan ikhlas membuat hidup SATU orang bahagia. Alangkah luhurnya.